Skip to main content

Posts

Hidup Untuk Menulis Atau Sebaliknya?

Wah, sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Tapi akan saya usahakan terus aktif dalam dunia penulisan. Apa yang menjadi alasan saya untuk terus menulis? Hmmm. Apa ya? Hal pertama yang membuat saya terus menulis adalah masa depan anak saya. Mungkin akan muncul pertanyaan. Kok bisa sih anak dijadikan alasan untuk menulis? Saya dengan mantap menjawab “Ya! Saya mulai menulis lagi karena anak saya. Saya ingin memberikan kenangan hidup untuk dia jika saya tidak panjang umur.” Terlalu lebay memang alasannya, tapi saya tidak ingin disisa waktu hidup saya yang sempit ini tidak membuahkan hasil. Waktu luang saya cukup banyak, sehingga jika tidak dipergunakan dengan baik, ya akan terbuang sia-sia. Terkadang saya suka punya pemikiran terkait peristiwa yang terjadi entah di lingkungan tempat tinggal atau yang saya dengar dan baca di media elektronik. Ingin sekali bicara dan diskusi seperti saat-saat sekolah atau kuliah. Tapi, anak saya belum bisa diajak bicara tentang hal tersebut. Ingin ...

Mengajak Anak Tersenyum

Gue bukan seorang ibu yang baik. Agak terlalu memaksakan kehendak, dan sangat ingin anak gue berkembang. Menurut gue, jika kalian pikir itu hal yang baik untuk seorang anak adalah salah. Mereka menjadi tidak bebas. Gue mengaku salah atas pola yang gue terapkan pada awal memiliki buah hati. Menyesal? Sangat! Lalu, apa yang saat ini gue lakukan untuk menebus kesalahan pola asuh? Gue membebaskan anak hanya untuk melihatnya tersenyum. Ya! Gue coba segala cara kegiatan yang sekiranya dia suka. Gue ajak dia main mainan yang dia mau bukan yang gue mau. Lalu? Sudah berapa lama gue menerapkan dan sejak usia berapa gue sadar hal inilah yang terbaik? Saat anak gue berusia 2 tahun. Terlambat? Ya! Tapi lebih baik daripada gue tidak sadar sama sekali untuk mengubah pola tersebut.  Apa yang membuat gue sadar akan hal tersebut? Saat gue menyadari anak gue kurang berkomunikasi. Gue tidak tahu, dia speech delay atau tidak. Tapi, gue sangat sadar dia malas untuk bicara dan mengeluark...

Berani Bilang Tidak!

Inilah kesalahan terbesar yang masih gue lakukan. Takut untuk berkata tidak. Banyak alasan gue melakukannya, tapi paling sering karena tidak enak hati. Selain itu, gue juga sering tidak berani untuk speak up kalau gue sebetulnya nggak mampu. Gengsi sih bukan alasannya, tapi karena yang meminta tolong terlalu banyak berharap. Jadilah diri ini merasa tidak enak hati. Apa solusinya? Kuatin hati untuk berani bilang tidak.

Kirim Uang Nggak Pakai Kartu ATM

Pagi tadi, adik saya tiba-tiba minta tolong. Dia mau pinjam uang untuk berobat tapi bingung nggak ada medium untuk terima uang. Ternyata kartu ATM-nya dia terbawa suaminya yang sudah berangkat kerja. Akhirnya saya putuskan untuk meminta dia bawa KTP lalu jalan kaki dari rumahnya ke Alfamart terdekat. Saya pun juga jalan ke Alfamart dari rumah saya berbekal KTP juga dan ponsel. Apa yang saya lakukan di Alfamart? Selama perjalanan ke Alfamart (kurang lebih 3-5 menit), saya akses mbanking BCA. Saya gunakan aplikasi tarik tunai. Setelah pilih nominal uang yang akan diambil di ATM yang sudah support cardless, saya langsung terima kode transaksi di inbox mbanking BCA. Sampai di Alfamart saya lihat ada ATM BCA. Jadilah saya ambil uang di ATM tanpa Kartu ATM. Caranya?  Saya lihat di layar ATM ada tulisan ‘ambil tunai dengan Sakuku’. Saya klik, masukan nomor ponsel lalu masukan nomor transaksi, dan voilaa uangnya keluar. Haha simple yaa tarik tunai via ATM BCA Cardless. Sud...

Tahun Baru Semangat Baru

Hi, balik lagi nih akhirnya ke rutinitas ngetik mengetik. Sekarang, lagi mood nulis soal hadiah ke suami. Hehe Semenjak jadi emakemak pengangguran alias nggak ada penghasilan lain selain dari transferan suami, saya jadi berhenti membelikan hadiah atau kado pada momen anniversary maupun birthday. Tapi karena saya memang sudah berniat mencari penghasilan tambahan yang juga direstui oleh suami, jadi deh Awal 2018 ini bisa memberikan kado walaupun nggak mahal-mahal amat lah yaa karena memang ‘hasil’ dari bisnis kecil-kecilan ini belum bisa menyaingi transferan si suami. Jadi, akhir 2017 itu saya akhirnya re-new account lagi di Oriflame. Setelah hampir setahun mendem nggak belanja apa-apa, akhirnya akunnya suspended. Hihi payah yahh saya setahun kemarin beneran off dari dunia belanja kosmetik maupun wellbeing. Tapi akhirnya mulai sadar kalau kecantikan itu perlu dijaga, ditambah kalau bisa berbisnis sambil belanja kenapa nggak dilakukan, kan? Hehe Karena belanja kebutuhan sehari-har...

Punya Uang Lebih, MTR’in Aja!

Sekarang, saya mau berbagi cerita ringan saja ya. Hehe kebetulan tahun lalu, saya sempat galau mau belanja perlengkapan bayi atau mau menabung untuk uang simpenan si baby kalau sudah lahir. Maklum yah, tahun lalu usia kandungan sudah masuk usia 7 bulan. Jadi ada bisikan dipikiran saya kalau saya harus menyambut bayi dengan sukacita, beli ini itu keperluan baby newborn dan lainlain. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya ingin menabung juga untuk kebutuhan si bayi, kan bisa saja usia setahun si bayi nanti saya malah nggak ada uang untuk beliin dia keperluan. Akhirnya, tepat tanggal 29 November 2016, saya resmi menggunakan “Tabungan Rencana Mandiri” di Rekening Bank Mandiri saya. Hehe kecil sih setoran perbulannya automatic Rp 100rb. Setidaknya saya berharap pada 29 November 2017 saya punya simpanan untuk belanjain keperluan si baby. Lalu, apakah saya menelantarkan calon bayi saya tanpa sambutan kemeriahan saat dia lahiran? Tentu tidak dong. Saya meminta bantuan keluarga dan teman dekat...

Welcome to emakemak world’s

Hi, udah lama nggak ngetik nih. Haha Lebay yah? Maafkan ya. Hampir 10 bulan vakum dari dunia tulis menulis secara langsung maupun dari keyboard. Ada hal yang lagi mau dibahas, sebetulnya sudah lama mau cerita soal pengalaman hamil dan periksa kehamilan. Sebelumnya, mungkin saya pernah cerita dalam jejaring sosial milik saya terkait periksa kehamilan yang menurut saya murah meriah gambreng. Kebetulan, kosan saya dan suami dekat dengan klinik bersalin. Hehe jadi ya periksa kehamilan perdana saya di klinik tersebut. Untungnya, saat itu di klinik biaya untuk periksa hamil dengan usg 2dimensi dan biaya konsul dokter hanya menghabiskan Rp 200rb. Dengan vitamin tidak pernah lebih dari Rp 250rb. Seiring perut saya membuncit, mertua saya menganjurkan untuk pindah periksa hamil ke rumah sakit yang saya rencanakan untuk melahirkan. Menurut mertua saya, periksa di klinik rumah sakit dengan bidan saja karena biaya dokter cukup mahal. Saya pun setuju. Karena saya tahu, biaya melahirkan juga t...